Latest Entries »

1. Pengertian nilai dan norma
A. Pengertian nilai.
a. Soerjono Soekanto
Mendefinisikan nilai sebagai konsepsi abstrak dari dalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk.
b. Woods
Mendefinisikan nilai sosial sebagai petunjuk umum yang telah berlangsung lama, yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari.
B. Pengertian norma
Norma adalah aturan atau kaidah yang mengatur kehidupan bersama baik yang berupa keharusan, anjuran, maupun larangan di dalam kehidupan bermasyarakat.

2. Ciri nilai dan norma
A. Ciri-ciri nilai
Secara umum ciri-ciri nilai sosial adalah:
a. Nilai sosial merupakan konstruksi masyarakat sebagai hasil interaksi atarwarga masyarakat.
b. Nilai sosial disebarkan diantara warga masyarakat (bukan dari bawaan lahir).
c. Nilai sosial terbentuk melalui sosialisasi (proses belajar).
d. Nilai sosial merupakan bagian dari usaha pemenuhan kebutuhan dan kepuasan sosial manusia.
e. Nilai sosial bervariasi antara kebudayaan masyarakat satu dengan kebudayaan masyarakat yang lain.
f. Nilai sosial dapat mempengaruhi perkembangan seseorang.
g. Nilai sosial memiliki pengaruh yang berbeda intensitasnya antarwarga masyarakat.
h. Nilai sosial cenderung memiliki keterkaitan antara satu dengan lainnya.
B. Ciri-ciri norma
Secara umum ciri-ciri dari norma sosial adalah:
a. Bersifat formal dan non formal
b. Mempunyai kekuatan untuk mengikat suatu masyarakat
c. Adanya sanksi bagi yang melanggar
d. Menjadi acuan dalam kehidupan suatu masyarakat.

1. Ciri-ciri nilai sosial
Secara umum ciri-ciri dari nilai sosial adalah:
1. Nilai sosial merupakan konstruksi masyarakat sebagai hasil interaksi antarwarga masyarakat.
2. Nilai sosial disebarkan di antara warga masyarakat (bukan merupakan bawaan lahir).
3. Nilai sosial terbentuk melalui sosialisasi (proses belajar).
4. Nilai sosial merupaka bagiam dari usaha pemenuhan kebutuhan dan kepuasan sosial manusia.
5. Nilai sosial bervariasi antara kebudayaan masyarakat satu dengan kebudayaan masyarakat yang lain.
6. Nilai sosial dapat mempengaruhi pengembangan diri seseorang.
7. Nilai sosial memiliki pengaruh yang berbeda intensitasnya antarwarga masyarakat.
8. Nilai sosial cenderung memiliki keterkaitan antara satu dengan lainnya.

2. Berdasarkan ciri-cirinya, nilai sosial dapat dibagi menjadi dua macam:
1. Nilai dominan
Adalah nilai yang dianggap lebih penting daripada nilai lainnya. Ukuran dominan tidaknya suatu nilai didasarkan pada hal-hal berikut:
 Banyaknya orang yang menganut nilai tersebut.
Exp: Sebagian besar anggota masyarakat menghendaki perubahan ke arah yang lebih baik di segala bidang, seperti politik, ekonomi, hukum, dan sosial.
 Seberapa lama nnilai tersebut telah dianut oleh anggota masyarakat
Exp: Sejak dahulu masyarakat Yogyakarta dan Surakarta melaksanakan tradisi sekatenan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW di alun-alun utara keraton.
 Tinggi rendahnya usaha orang untuk dapat melaksanakan nilai tersebut
Exp: Orang Indonesia pada umumnya berusaha untuk pulang kampung (mudik) dikala Lebaran atau Natal.
 Prestise atau kebanggan bagi orang yang melaksanakan nilai tersebut
Exp: Memiliki mobil dengan merk terkenal dapat memberikan kebanggan atau prestise tersendiri.
2. Nilai mendarah daging (internalized value)
Adalah nilai yang telah menjadi kepribadian dan kebiasaan sehingga ketika seseorang melakukannya kadang tidak melalui proses berfikir atau pertimbangan logis (bawah sadar). Biasanya nilai ini telah tersosialisasi semenjak kecil. Umumnya bila nilai ini tidak dilakukan maka akan ada konsekuensi seperti rasa malu, atau bahkan merasa sangat bersalah.
Exp: a. Seorang kepala keluarga yang belum mampu memberi nafkah pada keluarganya akan merasa sebagai kepala keluarga yang tidak bertanggung jawab.
b. Seorang guru/wali kelas yang melihat anak didiknya gagal dalam ujian akan merasa gagal dalam mendidik siswanya tersebut.

3. Pembagian norma sosial berdasarkan sifatnya
1. Norma formal
Adalah norma yang bersumber dari lembaga masyarakat yag formal atau resmi, norma ini biasanya tertulis.
Exp: Aturan-aturan yang bersumber dari negara, seperti konstitusi, surat keputusan (presiden maupun menteri), dan peraturan daerah.
2. Norma informal
Adalah norma yang biasanya tidak tertulis dan jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingakan dengan norma yang formal.
Exp: Kaidah atau aturan yang terdapat di masyarakat, seperti pantangan-pantangan, aturan-aturan di keluarga, dan aturan adat.
Ragam norma yang umum berlaku di masyarakat.
1. Norma agama
Adalah norma yang didasarkan pada ajaran atau kaidah suatu agama. Norma ini menuntut ketaatan mutlak penganutnya.
Exp: Menjalankan rukun Iman dan rukun Islam atau menjalankan sepuluh perintah Allah dalam agama katolik dan Protestan.
2. Norma kesusilaan
Adalah norma yang didasarkan pada hati nurani atau akhlak manusia. Norma ini bersifat universal. Artinya, setiap orang di dunia ini memiliki norma ini. Hanya bentuk dan perwujudannya saja yang berbeda.
Exp: Perilaku yang menyangkut nilai kemanusiaan, seperti pembunuhan, pemerkosaan tentu banyak ditolak oleh masyarakat dimanapun karena hal tersebut bertentangan dengan hati nurani.
3. Norma hukum
Adalah himpunan petunjuk hidup atau perintah dan larangan yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat. Ciri norma ini antara lain adalah diakui oleh masyarakat sebagai ketentuan yang sah dan terdapat penegak hukum sebagai pihak yang berwenang memberikan sa1. Pengertian nilai dan norma
A. Pengertian nilai.
a. Soerjono Soekanto
Mendefinisikan nilai sebagai konsepsi abstrak dari dalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk.
b. Woods
Mendefinisikan nilai sosial sebagai petunjuk umum yang telah berlangsung lama, yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari.
B. Pengertian norma
Norma adalah aturan atau kaidah yang mengatur kehidupan bersama baik yang berupa keharusan, anjuran, maupun larangan di dalam kehidupan bermasyarakat.

2. Ciri nilai dan norma
A. Ciri-ciri nilai
Secara umum ciri-ciri nilai sosial adalah:
a. Nilai sosial merupakan konstruksi masyarakat sebagai hasil interaksi atarwarga masyarakat.
b. Nilai sosial disebarkan diantara warga masyarakat (bukan dari bawaan lahir).
c. Nilai sosial terbentuk melalui sosialisasi (proses belajar).
d. Nilai sosial merupakan bagian dari usaha pemenuhan kebutuhan dan kepuasan sosial manusia.
e. Nilai sosial bervariasi antara kebudayaan masyarakat satu dengan kebudayaan masyarakat yang lain.
f. Nilai sosial dapat mempengaruhi perkembangan seseorang.
g. Nilai sosial memiliki pengaruh yang berbeda intensitasnya antarwarga masyarakat.
h. Nilai sosial cenderung memiliki keterkaitan antara satu dengan lainnya.
B. Ciri-ciri norma
Secara umum ciri-ciri dari norma sosial adalah:
a. Bersifat formal dan non formal
b. Mempunyai kekuatan untuk mengikat suatu masyarakat
c. Adanya sanksi bagi yang melanggar
d. Menjadi acuan dalam kehidupan suatu masyarakat.

1. Ciri-ciri nilai sosial
Secara umum ciri-ciri dari nilai sosial adalah:
1. Nilai sosial merupakan konstruksi masyarakat sebagai hasil interaksi antarwarga masyarakat.
2. Nilai sosial disebarkan di antara warga masyarakat (bukan merupakan bawaan lahir).
3. Nilai sosial terbentuk melalui sosialisasi (proses belajar).
4. Nilai sosial merupaka bagiam dari usaha pemenuhan kebutuhan dan kepuasan sosial manusia.
5. Nilai sosial bervariasi antara kebudayaan masyarakat satu dengan kebudayaan masyarakat yang lain.
6. Nilai sosial dapat mempengaruhi pengembangan diri seseorang.
7. Nilai sosial memiliki pengaruh yang berbeda intensitasnya antarwarga masyarakat.
8. Nilai sosial cenderung memiliki keterkaitan antara satu dengan lainnya.

2. Berdasarkan ciri-cirinya, nilai sosial dapat dibagi menjadi dua macam:
1. Nilai dominan
Adalah nilai yang dianggap lebih penting daripada nilai lainnya. Ukuran dominan tidaknya suatu nilai didasarkan pada hal-hal berikut:
 Banyaknya orang yang menganut nilai tersebut.
Exp: Sebagian besar anggota masyarakat menghendaki perubahan ke arah yang lebih baik di segala bidang, seperti politik, ekonomi, hukum, dan sosial.
 Seberapa lama nnilai tersebut telah dianut oleh anggota masyarakat
Exp: Sejak dahulu masyarakat Yogyakarta dan Surakarta melaksanakan tradisi sekatenan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW di alun-alun utara keraton.
 Tinggi rendahnya usaha orang untuk dapat melaksanakan nilai tersebut
Exp: Orang Indonesia pada umumnya berusaha untuk pulang kampung (mudik) dikala Lebaran atau Natal.
 Prestise atau kebanggan bagi orang yang melaksanakan nilai tersebut
Exp: Memiliki mobil dengan merk terkenal dapat memberikan kebanggan atau prestise tersendiri.
2. Nilai mendarah daging (internalized value)
Adalah nilai yang telah menjadi kepribadian dan kebiasaan sehingga ketika seseorang melakukannya kadang tidak melalui proses berfikir atau pertimbangan logis (bawah sadar). Biasanya nilai ini telah tersosialisasi semenjak kecil. Umumnya bila nilai ini tidak dilakukan maka akan ada konsekuensi seperti rasa malu, atau bahkan merasa sangat bersalah.
Exp: a. Seorang kepala keluarga yang belum mampu memberi nafkah pada keluarganya akan merasa sebagai kepala keluarga yang tidak bertanggung jawab.
b. Seorang guru/wali kelas yang melihat anak didiknya gagal dalam ujian akan merasa gagal dalam mendidik siswanya tersebut.

3. Pembagian norma sosial berdasarkan sifatnya
1. Norma formal
Adalah norma yang bersumber dari lembaga masyarakat yag formal atau resmi, norma ini biasanya tertulis.
Exp: Aturan-aturan yang bersumber dari negara, seperti konstitusi, surat keputusan (presiden maupun menteri), dan peraturan daerah.
2. Norma informal
Adalah norma yang biasanya tidak tertulis dan jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingakan dengan norma yang formal.
Exp: Kaidah atau aturan yang terdapat di masyarakat, seperti pantangan-pantangan, aturan-aturan di keluarga, dan aturan adat.
Ragam norma yang umum berlaku di masyarakat.
1. Norma agama
Adalah norma yang didasarkan pada ajaran atau kaidah suatu agama. Norma ini menuntut ketaatan mutlak penganutnya.
Exp: Menjalankan rukun Iman dan rukun Islam atau menjalankan sepuluh perintah Allah dalam agama katolik dan Protestan.
2. Norma kesusilaan
Adalah norma yang didasarkan pada hati nurani atau akhlak manusia. Norma ini bersifat universal. Artinya, setiap orang di dunia ini memiliki norma ini. Hanya bentuk dan perwujudannya saja yang berbeda.
Exp: Perilaku yang menyangkut nilai kemanusiaan, seperti pembunuhan, pemerkosaan tentu banyak ditolak oleh masyarakat dimanapun karena hal tersebut bertentangan dengan hati nurani.
3. Norma hukum
Adalah himpunan petunjuk hidup atau perintah dan larangan yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat. Ciri norma ini antara lain adalah diakui oleh masyarakat sebagai ketentuan yang sah dan terdapat penegak hukum sebagai pihak yang berwenang memberikan sanksi.
4. Norma kebiasaan
Merupakan hasil perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan (habit).
Exp: Kegiatan mudik menjelang hari raya, acara kenduri atau kirim doa pada sebagaian masyarakat islam.
5. Norma kesopanan
Adalah norma yang berpangkal pada aturan tingkah laku yang berlaku di masyarakat seperti cara berpakaian dan cara bersikap dalam pergaulan dan berbicara. Norma ini bersifat relatif. Artinya, penerapannya berbeda-beda di berbagai tempat, lingkungan, dan waktu.
Exp: Menentukan kategori pantas dalam berbusana antara daerah satu dengan daerah yang lain terkadang berbeda. Beberapa contoh norma kesopanan antara lain mengucapkan terima kasih ketika mendapat pertolongan, dan meminta maaf ketika berbuat salah atau membuat orang lain kesal.
1. Kesadaran akan adanya nilai dan norma yang berlaku di setiap masyarakat.
Nilai dan norma itu ada di semua masyarakat mulai dai masyarakat yang moden hingga masyarakat yang primitif sekalipun, meskipun dengan perbedaan tingkat kebudayaan masing-masing masyarakat akan menimbulka perbedaan tata nilai dan norma tetapi sesungguhnya nilai dan norma merupakan suatu keniscayaan (kepastian) dalam suatu masyarakat serta nilai dan norma itupun pastinya memiliki ktujuan yang baik, setidaknya bagi masyarakat yang menganut nilai dan norma sosial tersebut.

2. Keniscayaan perbedaan nilai dan serta norma sebagai suatu kewajaran.
Untuk menentukan sesuatu itu dikatakan baik atau buruk, pantas atau tidak pantas harus melalui proses menimbang. Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang dianut oleh suatu masyarakat. Tak heran apabila antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain bisa saja terdapat perbedaan tata nilai dan norma. Ini merupakan sesuatu yang alamiah dan wajar sehingga harus disikapi dengan arif dan bijaksana sehingga kita bisa mengerti dan memahami bahwasanya perbedaan tata nilai serta norma sosial diantara masyarakat merupakan hal yang wajar.
nksi.
4. Norma kebiasaan
Merupakan hasil perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan (habit).
Exp: Kegiatan mudik menjelang hari raya, acara kenduri atau kirim doa pada sebagaian masyarakat islam.
5. Norma kesopanan
Adalah norma yang berpangkal pada aturan tingkah laku yang berlaku di masyarakat seperti cara berpakaian dan cara bersikap dalam pergaulan dan berbicara. Norma ini bersifat relatif. Artinya, penerapannya berbeda-beda di berbagai tempat, lingkungan, dan waktu.
Exp: Menentukan kategori pantas dalam berbusana antara daerah satu dengan daerah yang lain terkadang berbeda. Beberapa contoh norma kesopanan antara lain mengucapkan terima kasih ketika mendapat pertolongan, dan meminta maaf ketika berbuat salah atau membuat orang lain kesal.
1. Kesadaran akan adanya nilai dan norma yang berlaku di setiap masyarakat.
Nilai dan norma itu ada di semua masyarakat mulai dai masyarakat yang moden hingga masyarakat yang primitif sekalipun, meskipun dengan perbedaan tingkat kebudayaan masing-masing masyarakat akan menimbulka perbedaan tata nilai dan norma tetapi sesungguhnya nilai dan norma merupakan suatu keniscayaan (kepastian) dalam suatu masyarakat serta nilai dan norma itupun pastinya memiliki ktujuan yang baik, setidaknya bagi masyarakat yang menganut nilai dan norma sosial tersebut.

2. Keniscayaan perbedaan nilai dan serta norma sebagai suatu kewajaran.
Untuk menentukan sesuatu itu dikatakan baik atau buruk, pantas atau tidak pantas harus melalui proses menimbang. Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang dianut oleh suatu masyarakat. Tak heran apabila antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain bisa saja terdapat perbedaan tata nilai dan norma. Ini merupakan sesuatu yang alamiah dan wajar sehingga harus disikapi dengan arif dan bijaksana sehingga kita bisa mengerti dan memahami bahwasanya perbedaan tata nilai serta norma sosial diantara masyarakat merupakan hal yang wajar.



Maraknya pembangunan pasar modern seperti hypermarket dan supermarket telah menyudutkan pasar tradisional di kawasan perkotaan, karena menggunakan konsep penjualan produk yang lebih lengkap dan dikelola lebih profesional. Kemunculan pasar modern di Indonesia berawal dari pusat perbelanjaan modern Sarinah di Jakarta pada tahun 1966 dan selanjutnya diikuti pasar-pasar modern lain (1973 dimulai dari Sarinah Jaya, Gelael dan Hero. 1996 muncul hypermarket Alfa, Super, Goro dan Makro. 1997 dimulai peritel asing besar seperti Carrefour dan Continent. 1998 muncul minimarket secara besar-besaran oleh Alfamart dan Indomaret. Dan pada tahun 2000-an liberalisasi perdagangan besar-besaran kepada pemodal asing), serta melibatkan pihak swasta lokal maupun asing. Pesatnya perkembangan pasar yang bermodal kuat dan dikuasai oleh satu manajemen tersebut dipicu oleh kebijakan pemerintah untuk memperkuat kebijakan penanaman modal asing.

Dampak dari hal yang dikemukakan, menurut survei AC Nielsen pada tahun 2004 didapatkan data bahwa pertumbuhan pasar modern 31,4% dan pasar tradisional bahkan minus 8,1%. Hal ini menunjukkan adanya masalah yang dihadapi pasar tradisional sebagai wadah utama penjualan produk-produk kebutuhan pokok yang dihasilkan oleh para pelaku ekonomi skala menengah kecil, yaitu:

View full article »

Anda tentu pernah memperhatikan perilaku orang-orang disekitar Anda yang memiliki perilaku berbeda-beda. Contoh, ada orang yang terbiasa menggunakan sendok saat makan, namun ada juga yang lebih senang menggunakan tangannya sendiri (muluk), ada orang yang suka membeli barang-barang di pasar tradisional meskipun dengan tempatnya yang ramai, sumpek, becek, dan bau. Namun ada juga yang sangat senang menghamburkan-hamburkan uang untuk sekedar berbelanja kebutuhan yang kurang mendesak di Mall. Mengapa hal ini dapat terjadi? Tentunya akan banya faktor yang mempengaruhinya, di antaranya adalah faktor nilai, norma, atau adat kebiasaan yang dianut.

Anda juga tentunya sering melakukan suatu interaksi/hubungan dengan orang lain, baik hanya sekedar saling menyapa saat berpapasan, berbicara walaupun hanya sebentar, bernyanyi, ataupun membentuk kelompok-kelompok, mengapa setiap manusia selalu mempunyai kecenderungan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain. Menurut Aristoteles, hal itu terjadi karena pada hakikatnya manusia senantiasa memiliki sifat bergaul dengan sesamanya. Sifat ini tidak timbul dari warisan biologis atau nalurinya semata, tetapi hal ini juga merupakan suatu warisan sosial. Sejak lahir, manusia sudah tergantung dengan manusia yang lainnya dan malakukan proses sosialisasi. Manusia dalam kelompoknya selalu mengembangkan cara hidup tertentu untuk mempertahankan hidupnya. Cara hidup ini disebut kabudayaan. Untuk mengetahui segala hal tentang perilaku manusia, masyarakat, dan kebudayaan, ada salah satu cabang ilmu pengetahuan yang membahasnya, yaitu Sosiologi dan Antropologi.

Dan untuk dapat lebih mendalami  apa itu sosiologi alangkah lebih baiknya jika kita memahaminya berangkat dari sejarah sosiologi sendiri sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan. Istilah sosiologi berasal dari kata socius dan logos. Socius (bahasa Latin) berarti kawan dan logos (bahasa Yunani) yang berarti kata atau berbicara. Jadi, sosiologi berarti berbicara mengenai masyarakat. Ada banyak tokoh yang berusaha memberikan definisi tentang arti sosiologi. Diantaranya sebagai adalah:

  1. Charles Elwood mengemukakan bahwa sosiologi merupakan pengetahuan yang menguraikan hubungan manusia dengan golongannya, asal dan kemajuannya, bentuk dan kewajibannya;
  2. Gustav Ratzenhofer mengemukakan bahwa sosiologi merupakan pengetahuan tentang hubungan manusia dengan kewajibannya untuk menyelidiki dasar dan terjadinya evolusi sosial serta kemakmuran umum bagi anggota-anggotanya;
  3. Herbert Spencer mengemukakan bahwa sosiologi mempelajari tumbuh, bangun, dan kewajiban masyarakat;
  4. Emile Durkheim menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yaitu fakta-fakta yang berisikan cara bertindak, berfikir, dan berperasaan yang ada di luar individu. Fakta-fakta tersebut mempunyai kekuatan untuk mengendalikan individu;
  5. Max Weber mengemukakan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal-balik antara beraneka macam gejala-gejala sosial (misalnya, pengungsian dengan bencana alam), dan ciri-ciri dari semua gejala-gelaja sosial tersebut;
  6. William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff mendefinisikan sosiologi sebagai ilmu tentang penelitian ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya adalah organisasi sosial;
  7. Joseph Roucek dan Warren mendefinisikan sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia di dalam kelompok;
  8. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi mengatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial, proses sosial, dan juga perubahan-perubahan sosial.

Seperti ilmu-ilmu lain, sosiologi pada awalnya menjadi bagian dari filsafat sosial. Ilmu yang membahas tentang masyarakat. Namun saat itu, pembahasan tentang masyarakat hanya berkisar pada fenomena-fenomena umum yang sering terjadi, seperti perang, ketegangan atas konflik sosial, dan kekuasaan dalam kelas-kelas penguasa. Dalam perkembangan selanjutnya, pembahasan tentang masyarakat meningkat pada cakupan yang lebih mendalam yakni menyangkut susunan kehidupan yang diharapkan dan norma-norma yang harus ditaati oleh seluruh anggota masyarakat.

Dan pada abad ke-19 seorang filsuf Perancis bernama Auguste Comte memperkenalkan sebuah ilmu pengetahuan yang disebut sosiologi. Berawal dari karya dan pandangannya tentang suatu bentuk ilmu pengetahuan yang mencoba memfokuskan kajiannya pada kehidupan sosial atau kemasyarakatan. Saat ini sosiologi telah menjadi suatu ilmu yang diakui secara independen sebagai salah satu ilmu pengetahuan dan telah berkembang pesat bersama dengan ilmu pengetahuan lainnya. Dalam hal ini, Auguste Comte diakui sebagai “Bapak Sosiologi”.

Sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang obyek studinya adalah masyarakat. Sosiologi memusatkan kajiannya pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut. Adat istiadat, tradisi, nilai-nilai hidup suatu kelompok, dan perkembangan lembaga-lembaga merupakan perhatian dari sosiologi. Obyek sosiologi adalah masyarakat dengan fokusnya pada hubungan antar manusia dalam masyarakat dan proses yang ditimbulkan dari hubungan tersebut. Sedangkan tujuan dari sosiologi itu sendiri adalah meningkatkan daya dan kemampuan manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya.

Sedangkan untuk eksistensi sosiologi di masyarakat sendiri adalah sesuatu hal yang pasti karena dilihat dari sosiologi sebagai ilmu pengetahuan. Dimana pengetahuan muncul karena adanya rasa ingin tahu manusia tentang hal-hal di dalam kehidupan yang tidak ia mengerti. Manusia ingin mengetahui kebenaran tentang hal-hal tersebut. Setelah manusia memperoleh pengetahuan tentang suatu hal, ia akan mencari pengetahuan tentang hal yang lain.

Namun demikian, tidak semua pengetahuan merupakan ilmu. Hanya pegetahuan yang tersusun secara sistematis dengan menggunakan kekuatan pikiran saja dapat disebut ilmu pengetahuan (science). Sistematis berarti ada urutan-urutan tertentu yang bisa menggambarkan tentang garis besar akan apa yang ada dalam sebuah pengetahuan. Selain sistematis, pengetahuan tersebut juga harus dapat selalu diperiksa (dikontrol) dengan kritis oleh setiap orang yang ingin mengetahuinya. Dengan demikian, ilmu pengetahuan memiliki beberapa unsur pokok yang tergabung dalam suatu kesatuan. Unsur-unsur itu adalah pengetahuan (knowledge), tersusun secara sistematis, menggunakan pikiran, dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain atau umum (obyektif). Dan kontrol ini harus berdasarkan metode-metode ilmiah.

Sosiologi dikatakan sebagai suatu ilmu pengetahuan karena memiliki unsu-unsur diatas tadi. Dan selama manusia terus mencari arti dari dirinya di masyarakat, manusia terus resah dengan arti dari eksistensinya sebagai bagian dari orang lain serta dengan kelompok manusia yang labih besar, maka manusia akan terus mencari suatu pengetahuan untuk dapat memahami serta mengkaji hal tersebut dan selama itu pula sosiologi akan terus dipergunakan setiap orang yang mau memikirkan tentang segala gejala-gejala sosial yang terjadi disekitarnya karena sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang dapat memberikan gambaran tentang segala pertanyaan manusia tentang masyarakat beserta segala permasalahan di dalamnya. Sosiologi never die, karena silmu ini selalu berkembang seiring dengan perkembangan manusia yang tak pernah diam, manusia terus berubah wari waktu kewaktu dan sosiologi akan kehilangan eksistensinya di masyarakat ketika masyarakat tersebut juga kehilangan eksistensinya di dalam kehidupan, sosiologi tumbuh dan berkembang bersama masyarakat dan akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Hidup dan matinya sosiologi berdampingan dengan hidup dan matinya masyarakat.

Emil Durkheim lahir di Epinal, Perancis pada 15 April 1858.Pada tahun 1879 ia masuk di Ecole Normale Superieure. Pada tahun 1882-1887, ia mengajar filsafat di sejumlah sekolah di Paris. Tahun 1893 ia menerbitkan “Pembagian Kerja dalam Masyarakat”. Tahun 1895 ia menerbitkan “Aturan-aturan Metode Sosiologis”. Pada tahun 1896 ia menerbitkan jurnal L`Anee Sosiologiqne. Tahun 1897 ia menerbitkan “Bunuh Diri”. Perspektif dan Pemikiran Sosiologi Durkheim diantaranya tentang Fakta sosial, Pembagian kerja dalam masyarakat, Bunuh diri, Agama, serta Evolusi sosial.

FAKTA SOSIAL

Fakta social merupakan gejala yang terjadi di dalam masyarakat yang dilihat secara sosial dan bukan diasumsikan terhadap asumsi individu. Fakta sosial tidak dapat direduksi dalam fakta individu, melainkan memiliki eksistensi yang independen pada tingkat sosial.

Karakteristik Fakta Sosial

1. Gejala sosial bersifat eksternal terhadap individu.

2. Fakta itu memaksa individu. Maksudnya individu dipaksa, dibimbing, diyakinkan, didorong, atau dengan cara tertentu dipengaruhi oleh berbagai fakta sosial           dalam lingkungan sosialnya.

3. Fakta itu bersifat umum atau tersebar secara luas dalam suatu masyarakat.

Tipe fakta sosial menurut Durkheim yaitu :

  1. Bersifat materiil
  2. Bersifat non materiil

PEMBAGIAN KERJA DALAM MASYARAKAT

Masyarakat yang ditandai oleh solidaritas mekanis menjadi satu dan padu karena seluruh orang adalah generalis. Ikatan dalam masyarakat seperti ini terjadi karena mereka terlibat dalam aktivitas yang sama dan memiliki tanggung jawab yang sama. Sebaliknya, masyarakat yang ditandai oleh solidaritas organis bertahan bersama justru dengan perbedaan yang ada di dalamnya, dengan fakta bahwa semua orang memiliki pekerjaan dan tanggung jawab yang berbeda-beda.

Solidaritas menunjuk pada hubungan antar individu dan/atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama dan diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Ada dua solidaritas, yakni Mekanik dan Organik.

Bentuk-bentuk pokok solidaritas sosial

  1. 1. Solidaritas mekanis
    1. Didasarkan pada kesadaran kolektif yang kuat, menunjuk pada totalitas kepercayaan dan sentimen bersama yang rata ada pada warga masyarakat yang sama itu.
    2. Pembagian kerjanya rendah karena bentuk solidaritasnya adalah pekerjaan jadi segala sesuatu dikerjakan secara bersama-sama.
    3. Solidaritas mekanis merupakan bentuk solidaritas yang tergantung pada individu yang memiliki sifat yang sama dan menganut kepercayaan dan pola normatif yang sama juga sehingga sifat-sifat individualistisnya juga rendah.
    4. Hukum bersifat menekan atau represif .
    5. Bersifat primitif pedesaan
    6. 2. Solidaritas organik
      1. Muncul karena pembagian kerja yang bertambah besar.
      2. Pembagian kerja sudah ada, karena masyarakat modern lebih berpangkal pada individu dari segi keunikannya yang tidak tergantikan, yang menuntut bermacam-macam lapangan kerja yang sesuai dengan bakat dan preferensi masing-masing anggota sehingga pembagian kerja semakin terspesialisasi berdasarkan fungsi-fungsi berdasarkan kecakapan individu. Kemudian muncullah fungsionalisme.
      3. Funsionalisme melihat sistem sosial ibarat tubuh yang saling terkait satu dengan yang lainnya, jika satu bagian sakit, maka seluruh anggota tubuh lain harus diupayakan menyembuhkannya agar ia dapat beraktifitas seperti biasa.
      4. Didasarkan pada tingkat ketergantungan yang tinggi.
      5. Kesadaran kolektif lemah dan individualitas tinggi.
      6. Hukum bersifat memulihkan atau restitutif.
      7. Bersifat industrialis perkotaan.

Durkheim menegaskan bahwa perkembangan pembagian kerja pun akan didikuti integrasi masyarakat melalui “solidaritas organik” yang menimbulkan ikatan yang saling menguntungkan dan kontribusi anggota masyarakat akan saling melengkapi.

BUNUH DIRI

Bunuh Diri berbanding terbalik dengan tingkat integrasi, dimana jika tingkat integrasi tinggi maka angka bunuh diri rendah dan sebaliknya jika tingkat integrasi rendah         maka angka bunuh diri tinggi. Tipe bunuh diri meburut Durkheim ada 4 yaitu:

  1. 1. Egoistik

Egoisme adalah sikap seseorang yang tidak berintegrasi dengan grupnya,yaitu keluarga,teman-teman,kumpulan agama dan sebagainya.Hidupnya tidak terbuka kepada orang lain,ia memikirkan dan mengusahakan kebutuhannya sendiri tanpa memperhatikan kebutuhan orang lain atau masyarakat,ia tidak mempunyai tujuan dalam hidup selain kepentingannya sendiri.

  1. 2. Altruistik

Disebabkan oleh relasi negatif dengan masyarakat atau kelompok bunuh diri altruistis adalah kebalikanya. Pengintegrasian yang menyangkut seluruh hidup seseorang memandang hidup diluar grup atau dalam pertentangan dengan grup sebagai tidak berharga. Kalau keselamatan atau kehormatan grup menuntut bahwa mereka harus mengorbankan diri mereka, maka mereka tidak mempunyai jalan lain selain melakukannya karena mereka telah menjadi satu dengan grup mereka.

Bunuh diri altruistik merupakan hasil dari suatu tingkat integrasi sosial yang terlampau kuat, sehingga akan menekan individualisme ketitik dimana individu dipandang tidak pantas atau tidak penting dalam kedudukannya sendiri.

  1. 3. Anomik

Keadaan moral dimana orang bersangkutan kehilangan cita-cita, tujuan, dan norma dalam hidupnya sehingga akan menimbulkan kebingungan dalam diri seseorang dan nilai-nilai yang semula memberi motivasi dan arahan kepada perilakunya tidak berpengaruh lagi.

  1. 4. Fatalistik

Persoalan yang tidak terlalu banyak dibahas Dukheim adalah tipe bunuh diri fatalistik.Kalau bunuh diri anomik terjadi dalam situasi di mana regulasi melemah,namun sebaliknya bunuh diri fatalistik terjadi ketika regulasi meningkat.Dukheim menggambarkan seseorang yang melakukan bunuh diri fatalistik seperti seseorang yang masa depanya telah tertutup dan nafsu yang tertahan oleh disiplin yang menindas.

AGAMA

Menurut Durkheim fungsi sosial agama adalah memperkuat integrasi masyarakat, fungsi sosial dalam membentuk solidaritas            sosial, memberi arti     hidup, sebagai kontrol sosial, perubahan sosial dan dukungan psikologi bagi masyarakat. Dalam pemikirannya tentang sosiologi agama Durkheim tetap mengaitkan tentang solidaritas mekanis dan organis, sehingga tetap ada perbedaan antara agama primitif dan juga agama modern.

Agama Primitif tetap memiliki suatu kekolektifan yang kuat terhadap masyarakat, namun agama saat ini tidak memiliki hal tersebut, dapat di lihat sekarang sudah mulai muncul negara sekuler.

EVOLUSI SOSIAL

Inti dari evolusi sosial menurut pandangan Durkheim adalah adanya pembagian  solideritas mekanik dan organik. Dan dia menyebutkan tentang perbandingan sifat pokok dari masyarakat yang didasarkan pada solideritas mekanik dengan solideritas organik.

Trans Jogja disediakan oleh pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada sekitar akhir tahun 2007 dengan harapan dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penanggulangan kemacetan dan menjadi solusi bagi para pengguna jalan untuk lebih mengefisienkan waktu perjalanan. Nyatanya, kemampuan Trans Jogja yang diharapkan dapat diandalkan untuk mempersingkat waktu tempuh dan menghindari kemacetan bagi penggunanya sekarang hanya digunakan sebagai “bus pariwisata”.

Pertanyaan mendasar dari hal ini yaitu, mengapa ini bisa sampai terjadi padahal tujuan umum dari sebuah alat transportasi yauitu untuk menjadikan jarak tempuh menjadi lebih singkat dengan kemudahan berkendara yang lebih dibandingkan dengan kendaraan pribadi. Selain itu, dengan adanya Trans Jogja  adalah sebagai pilihan alternatif transportasi umum yang dapat melintasi jalur-jalur strategis di daerah  Jogjakarta ternyata hanya padat digunakan oleh orang-orang yang ingin menuju obyek wisata dan pusat perbelanjaan yang ada di Jogja. Sebagai contoh, Trans Jogja jalur 1A arah kota yang selalu saja dipadati penumpang. Hal ini dikarenakan banyak penumpang yang ingin melakukan perjalanan wisata  yang berada di kota (Malioboro, Kraton Yogyakarta, XXI, Galeria, Ambarukmo Plaza dll).

Sementara itu, jangka waktu penumpang saat harus menunggu bus cukup lama yang dikarenakan masalah keterbatasan armada, sedangkan untuk keperluan yang sifatnya cukup mendesak seperti berangkat sekolah, berangkat kuliah, maupun bekerja, efisien waktu akan lebih diutamakan sehingga para penumpang yang banyak melakukan aktifitas rutin malah cenderung untuk menggunakan kendaraan pribadi sedangkan Trans Jogja sendiri lebih banyak digunakan oleh para wisatawan asing maupun domestik yang notabene lebih memiliki waktu luang.

Oleh karena itu, tujuan dari adanya Trans Jogja untuk mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas di daerah kota Jogja dengan mengurangi angka ketergantungan pemakaian kendaraan pribadi tidak sepenuhnya tercapai. Mengapa demikian? Oleh karena saya sendiri sering menggunakan Trans Jogja hanya untuk berjalan-jalan keliling kota Jogja saja, ukuran Trans Jogja sendiri yang menurut saya kurang sesuai dengan ukuran jalan di kota DIY malah menimbulkan kecenderungan makin memperparah kemacetan dijalan karena ukuran dari armada bus yang cukup besar sedangkan di beberapa tempat tertentu jalananya kecil yang jika dilalui bus Trans Jogja malah menutup seluruh jalan.

Selain itu, keadaan kota Jogja sendiri yang akhir-akhir ini kurang kondusif juga membawa pengaruh pada peningkatan kemacetan di beberapa jalan utama, sebagai contoh yaitu terjadinya banjir lahar dingin dari erupsi Gunung Merapi membuat kali code yang melintasi jalanan utama menuju pusat perbelanjaan Malioboro menjadi ramai dikunjungi para pengendara yang dengan sengaja memarkir kendaraanya dipinggiran jalan untuk sejenak melihat aliran air kali code yang meluap yang jika pengendara lain tidak berhati-hati bisa menyebabkan ancaman kecelakaan karena tempat para pengendara memarkir kendaraan mereka adalah tepat berada di pinggir jalan yang menikung, jalur dari Trans Jogja yang seharusnya dibuat khusus bagi armada bus Trans Jogja juga tidak berfungsi dikarenakan kurang adanya pembatasan jalan untuk Trans Jogja  dengan kendaraan lainya dan mungkin juga karena tingkat kemacetan kota Jogja yang sudah terlalu semerawut menyebabkan para pengguna jalan kurang sadar dan kurang bisa bersabar dalam berlalu lintas sehingga mereka saling berebut jalan yang diantaranya juga berebut dengan jalur jalan Trans Jogja, tempat parkir kendaraan yang terkadang malah berada di badan jalan juga menjadi salah satu faktor tersendiri penyebab kemacetan, lihat saja  di daerah toko Merah yang berada di jala Gejayan di depan hotel Plaza Jogjakarta yang pada jam makan siang dan jam pulang sekolah menyebabkan kemacetan yang bersumber dari parkiran toko tersebut yang berada di jalan, belum lagi jalanan sepanjang toko tersebut juga merupakan jalanan yang banyak dilalui anak-anak kuliahan, anak sekolah dan agkutan umum sehingga sering kali kemacetan didaerah tersebut sulit dihindarkan. Disamping itu juga masih banyak lagi hal-hal lain yang makin memperparah dan juga makin membuat  kesemrawutan kota Jogja.

Melihat kenyataan yang seperti ini, sebaiknya pemerintah bertindak lebih bijaksana dalam perkembangan dan pengembangan bidang lalu lintas di DIY. Baik itu pemerintah kota maupun pemerintah kabupaten, karena tingkat kemacetan di kota ini sudah semakin mengkhawatirkan.

Pemerintah sebaiknya menetapkan secara jelas perihal apa yang harus dilakukan. Apakah tindakan tersebut berupa pelebaran jalan maupun penambahan jumlah armada Trans Jogja. Karena dengan penambahan tranportasi umum, diharapkan DIY dapat menjadi kota yang bebas macet, lebih teratur dan tentunya Trans Jogja dapat menjadi sahabat bagi pelajar, dan mahasiswa di DIY.  Di samping itu juga perlu adanya pengawasan yang ketat dan juga sanksi yang tegas bagi siapa saja yang melakukan pelanggaran agar pada akhirnya sebuah peraturan tidak berakhir hanya pada sebuah peraturan yang dibuat tanpa adanya pengawasan pada pelaksanaanya yang nantinya juga tidak akan membawa pengaruh apa-apa.

Bicara soal penataan kawasan Kali Code, kita tak mungkin lupa dengan “arsitek” andal yang pernah menata kawasan ini sekitar awal 1990-an, YB. Mangunwijaya atau yang lebih akrab dipanggil Romo Mangun. Bahkan karena karya besarnya itu Romo Mangun mendapatkan penghargaan internasional Aga Khan Award for Architecture tahun 1992.

Sejak ditata Romo Mangun dan sepeninggalnya, kondisi kawasan Kali Code banyak mengalami kemunduran. Pemerintah Kota Jogja memang sempat mencanangkan gerakan hijau di sana, namun ternyata itu tidaklah cukup. Sekarang Kali Code mmenghadapi gelombang bencana. Ancaman lahar dingin dari erupsi Gunung Merapi tak bisa dihindari. Maka dari itu penanganan dan penataan mutlak diperlukan.

Erupsi Gunung Merapi hingga saat ini belum berhenti. Sekarang giliran ratusan warga bantaran Kali Code mengunngsi karena luapan lahar dingin. Rumah-rumah terendam lumpur dan sebagian lagi tidak bisa ditinggali. Kondisi di bantaran Kali Code memiriskan hati siapa saja yang melihatnya. Sekaligus membuka mata hati kita semua, bahwa kawasan ini tidak lagi bisa menunggu waktu untuk ditata. Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja harus cepat bergerak, karena warga di kawasan ini tidak bisa menunggu lagi.

Warga yang tinggal di bantaran Kali Code bakan berharap agar talut yang dibangun bisa lebih kuat dan lebih ditinggikan karena talut yang selama ini ada, ternyata tidak cukup kuat menahan terjanga banjir besar. Warga menilai permintaan itu merupakan langkah antisipasi kemungkina buruk untuk jangka panjang. Permintaan itu dirasa cukup realistis agaknya hanya menjadi satu dari sekian banyak rencana penataan Kawasan Code. Warga yang mengungsi kini tak bisa kembali, di beberapa tempat yang berjarak terlalu dekat dengan kali rumah-rumahnya sudah tidal layak lagi untuk dihuni. Warga lain yang rumahnya masih utuh juga tidak bisa pulang. Ancaman banjir lahar yang selalu mengancam setiap saat bisa saja terjadi.

Banjir lahar tidak bisa diatasi dengan sekedar gerakan mengeruk Kali Code. Kawasan ini sudah termasuk kawasan yang berbahaya untuk ditinggali. Kita mungkin masih bersyukur, di antara warga yang tinggal di sana tidak ada korban jiwa. Tapi gelombang pengungsi dan warga yang tidak bisa pulang adalah korban bencana ini juga. Kita akan berperasangka baik pada Pemkot Jogja tentang tumpukan kesulitan penataan kawasan ini. Namun sekarang Merapi mengingatkan kita, sekali lagi, tidak hanya pada warga yang tinggal di daerah itu, tetapi juga pada Pemkot. Seharusnya Pemkot sudah tahu sehingga dapat sesegera mungkin melakukan tindakan pencegahan sedini mungkin.sementara erupsi Merapi bukan pertama kali terjadi. Lahar dingin memang terlanjur menerjang, penyesalan juga tidak akan mampu menyelesaikan masalah. Sekarang, waktunya seluruh warga dan Pemkot terutama harus bekerjasama.

Pemkot Jogja harus punya cetak biru penataan kawasan ini untuk jangka waktu yang panjang, terutama antisipasi ancaman erupsi Merapiu di hari-hari  ke depan. Beban Pemkot ganda karena bencana, penanganan dan penataan. Namun bukan mustahil semua itu dapat terlaksana.

 

Apakah merokok menjadi bagian dalam hidup Anda? Berhati hatilah karena Anda bisa saja menjadi seorang pelupa karena kebiasaan buruk tersebut. Ketika menghisap rokok, orang akan membawa tar, karbon monoksida dan nikotin kedalam tubuhnya. Nikotin itu selanjutnya akan membuat pembuluh darah semakin menyempit sehingga membuat aliran darah ke tubuh dan otak menjadi lambat dan akhirnya membuat orang tersebut menjadi cepet lupa.

Nikotin juga dapat menyebabkan kerusakan permanan pada arteri. Selain itu, racun rokok tersebut dapat memperlambat kinerja otak, yang seharusnya dapat dilakukan dalam hitungan detik tapi akhirnya harus berlangsung dalam satu hari. Otak bisa diibaratkan sebagai pembangkit listrik di dalam tubuh. Sinyal dari otak memungkinkan Anda untuk berpikir, berbicara, bergerak dan mengingat. Tapi bila nikotin mengganggu aliran darah, maka dapat menyebabkan kerusakan pada arteri, yang selanjutnya bisa mempengaruhi semua fungsi otak.

Dilansir dari Lifestrong yang dikutip Detikhealth, Princeton University Health Services memperingatkan bahwa sebagian fungsi kognitif bisa terganggu karena kebiasaan merokok. Archives of Internal Medicine pada tahun 2008 pernah melaporkan bahwa merokok dikaitkan dengan kemungkinan penurunan memori. Bahkan, orang yang terus-menerus merokok juga dapat meningkatkan resiko domentia atau kepikunan.

Penelitian tersebut juga menguji memori pada mantan perokok. Berdasarkan penemuan menunjukkan bawa orang yang sudah berhenti merokok untuk jangka panjang, setidaknya 12 tahun, tidak memiliki masalah memori yang berkaitan dengan rokok lagi. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa dengan berhenti merokok dapat meningkatkan kembali  kondisi kesehatan, termasuk juga dengan masalah kognitif.

Pemerintah mulai membuka wacana pengelolaan Tugu Jogja sebagai salah satu landmark sekaligus ruang publik Jogja yang menandakan keistimewaan Kota Jogja. Wacana ini muncul dalam acara sarehan yang diadakan Dewan Kebudayaan DIY di Griya KR Jl. P Mangkubumi, Jogja kamis pada tanggal 30 desember kemarin.

GBPH  Djojokusumo, salah satu narasumber memaknai tugu sebagai bentuk harmonisasi kehidupan. Selayaknya harmonisasi gamelan, Tugu Jogja sebagai simbol manunggaling kawulo gusti atau kesatuan antara pemimpin dengan yang dipimpin. Menurutnya Tugu Jogja tidak saja sebagai salah satu tanda keistimewaan DIY melainkan sebagai salah satu bukti pluralisme syarat nilai filosofi bagi NKRI.

“tugu menandakan golong gilig, sebagai bentuk kesatuan atau keterpaduan . sehingga jika dihayati, dalam bangunan tugu memiliki nilai filosofi yang luar biasa bagi sosial masyarakat,” jelas Djojo. Pengamat budaya sekaligus ketua Dewan Kesenian DIY KRT Widya Anindita mengatakan Tugu Jogja memiliki nilai filosofi persatuan mendalam. Dijelaskannya semangat di dalamnya pernah mengkhawatirkan Belanda kala itu. Dalam pemaparannya, tugu telah berubah bentuk sejak kerusakan akibat gempa pada tanggal 10 Juni 1867 di masa kekuasaan Hamengkubuwono VI.

Fenomena Facebook saat ini memang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan dan sangat menarik untuk disimak. Bahkan, beberapa surat kabar terkemuka baik cetak maupun elektronik yang berbasis internet di tanah air telah membahas masalah fenomena Facebook ini. Facebook adalah social networking sejenis Friendster. Sebagian besar pengguna internet telah mengenal bahkan memiliki account di Friendster, salah satu social networking yang sangat populer di Indonesia. Namun, kejayaan Friendster di Indonesia akan segera tergantikan oleh Facebook.

Saat ini, Facebook telah menjadi sangat digandrungi oleh para penggemar social networking. Sebagai Informasi tambahan, Facebook yang pertama kali dirilis pada Pebruari 2004 oleh pembuatnya, Mark Zuckerberg, sekarang telah memiliki lebih dari 175 juta anggota di seluruh dunia. Sihir Facebook benar-benar membuat fenomena global dalam pertemanan sosial.
Pengguna Facebook bukan hanya anak muda. Facebook telah menyebar ke berbagai lapisan masyarakat dan usia. Mulai dari anak sekolah, mahasiswa, karyawan, hingga ibu rumah tangga.

Aktivitas mereka bersama Facebook telah dimulai sejak bangun tidur, ketika sampai di kantor atau kampus, sambil bekerja atau kuliah, hingga pulang dari kantor atau kampus. Bisa dibilang bahwa aktivitas sehari-hari mereka tidak bisa lepas dari Facebook. Begitulah pengakuan dari beberapa reponden yang dimuat di sebuah surat kabar cetak terkemuka di Indonesia. Para responden tersebut setiap hari online di Facebook walaupun hanya sekedar untuk melihat pesan, melihat komentar atau status terbaru dari teman-teman mereka di jejaring Facebook. Mereka mengaku tidak ingin kehilangan informasi mengenai kondisi terkini di dunia Facebook mereka walaupun sedang bekerja atau kuliah.

Keranjingan pada Facebook ini adalah salah satu sinyal bahwa masyarakat Indonesia semakin melek teknologi informasi yang sedang menjadi tren di dunia global. Namun, dengan semakin modern peradaban dunia global, kebutuhan manusia modern akan pengakuan terhadap eksistensi diri mereka dengan bersosialisasi dengan orang lain di sekeliling mereka sebagai kebutuhan dasar manusia biasa semakin sulit untuk terpenuhi. Dunia terasa berjalan begitu cepat. Mereka setiap hari disibukkan dengan rutinitas yang tiada akhir. Kesibukkan tidak hanya selesai di tempat kerja atau meja belajar. Setelah sampai di rumah pun tidak jarang mereka membawa tugas yang belum terselesaikan dari kantor, sekolah, atau kampus. Oleh karena itu, dibutuhkan sarana untuk memfasilitasi pemenuhan kebutuhan dasar tersebut.

Untuk mengatasi perbedaan ruang dan minimnya waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dunia teknologi informasi menawarkan sarana social networking seperti Facebook. Facebook telah dilengkapi dengan berbagai fitur dan aplikasi yang mendukung pemenuhan kebutuhan tersebut. Fitur-fitur di Facebook memang lebih lengkap jika dibandingkan dengan social networking lainnya seperti mySpace, Friendster, Tribe, Geek, Twitter, dan Bebo. Namun, fitur-fitur tersebut dibahas di bagian yang lain pada Artikel-Artikel Fenomena  Facebook dalam blog ini.

Dengan Facebook, manusia modern bisa mengekspresikan segala sesuatu tentang diri mereka baik itu melalui foto, video, aplikasi, catatan, status, ataupun komentar. Tidak jarang foto-foto, status, dan komentar yang di-publish oleh pengguna Facebook terkesan gokil dan narsis. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk menunjukkan eksistensi mereka kepada dunia ataupun agar hasrat narsistik mereka benar-benar terlampiaskan. Segala sesuatu yang mereka lalukan dapat memperlihatkan identias pribadi mereka sebenarnya yang mungkin dalam kehidupan nyata tidak terlihat.

Dengan demikian, Facebook memberikan kesempatan kepada setiap orang agar dapat menjadi dirinya sendiri dan bebas berbicara dengan semua orang.

 

Pembakaran kalori saat berolahraga bukan hanya dapat mengurangi tumpukan lemak dalam tubuh, tetapi juga menyebabkan massa otot menjadi makin mengecil jika dilakukan secara berlebihan.

Penelitian terhadap peserta lomba lari jarak jauh menunjukkan adanya pengurangan massa otot sebanyak 7%. Lomba lari Trans Europe Foot Race 2009 yang menempuh jarak hingga 4.500 km dan berlangsung selama dua bulan itu diikuti oleh 44 peserta. Seusai lomba, berat badan para peserta rata-rata berkurang 5,4% yang diakibatkan oleh pembakaran kalori untuk menghasilkan energi.

Turunnya berat badan sebagian besar dipicu oleh pembakaran lemak, yang rata-ratanya mencapai 50% dari jumlah lemak total. Namun itu sja belum cukup, sebab sebagian massa otot juga terpakai untuk memenuhi kebutuhan kalori sehingga rata-rata mengalami penyusutan sebesar 7%. “dari penelitian tersebut didapatkan sejumlah data unik, dalam kaitannya dengan pengaruh olahraga ketahanan seperti lari marathon terhadap pembakaran lemak”, ungkap Dr. Uwe Schuts dari University Hospital of Ulm, Jerman, seperti dilansir Health day yang dikutip dari Detikhealth.

Penelitian tersebut membuktikan bahwa lemak merupakan jaringan yang paling terpengaruh saat berlari. Jumlah lemak yang terbakar dalam olahraga ini lebih besar dari yang dibayangkan sebelumnya, sampai-sampai pembakaran 50% dari lemmak total saja belum cukup. Semakin lama seseorang berlari, semakin besar kebutuhan lemak untuk menghasilkan energi. Oleh kearena itu jika seorang atlet pensiun setelah bertahun-tahun menekuni olahraga ini, maka komsumsi lemak haruslah dibatasi. Hal ini dikarenakan tubuhnya terkondisikan menimbun lemak sebagai cadangan kalori.

Sisi positifnya, lemak itu melindungi para pelari dari resiko cidera otot. Oleh karena itu, para atlet bisa terus berlari meski sedang mengalami cidera ringan akibat peradangan pada jaringan otot atau intramuskular.